Peserta peringatan Hari Guru
Nasional Tahun 2015 di Istora Senayan, Jakarta, 24 November 2015.
TEMPO/Subekti.
Jakarta - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat
Guru Indonesia Retno Listyarti mengkritik kebijakan Dinas Pendidikan Jakarta
yang dianggap lebih banyak mementingkan pembangunan fisik sekolah dan
penunjangnya, ketimbang pelatihan guru.
Selama dua tahun terakhir, kata Retno,
guru-guru hanya dilatih terkait dengan Kurikulum 2013, dan didorong menuntaskan
mata pelajaran yang disertakan dalam ujian nasional (UN). "Padahal
seharusnya ada pelatihan peningkatan kualitas guru secara terencana, sesuai
kasus dan pemetaan kemampuan dia di mana," kata Retno, saat dihubungi,
Rabu, 25 November 2015.
Menurut Retno, Dinas seharusnya
menggelar bimbingan teknik, kreativitas mengajar, pengisian pedagogi, dan
pencegahan kekerasan agar bisa menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman
di sekolah.
Dinas bisa meminta pelatihan
dari pakar atau praktisi sesuai bidangnya masing-masing. Mantan Kepala Sekolah
SMA Negeri 3 Jakarta ini mengatakan kebanyakan pembicara pelatihan yang diadakan
Dinas diisi sendiri oleh tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), bukan
pakarnya.
Sedangkan pelatihan
informasi dan teknologi kebanyakan digelar swasta, bukan dari Dinas Pendidikan.
"Harusnya guru di Jakarta dididik lebih canggih dari para profesional.
Misalnya mengundang politisi dan hakim untuk pelajaran kewarganegaraan, atau
dosen untuk pelajaran lain," kata Retno.
Soal kekerasan, Retno
melihat pentingnya pelatihan pencegahan kekerasan diberikan kepada guru dari
tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Dengan pelatihan ini, guru dan
kepala sekolah memiliki persepsi yang sama soal bentuk-bentuk kekerasan yang
tak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi bisa verbal. "Keterampilan
ini dibutuhkan agar budaya kekerasan tak berkembang," ucapnya.
"Bagaimana kita menciptakan zona aman di sekolah kalau tak ada
pendidikannya sama sekali?"
Pada Jumat, 18 September
2015, siswa kelas II SD 07 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Anggrah Ardiansyah,
meninggal setelah terluka di kepala karena ditendang temannya. Perkelahian
tersebut bermula karena saling ejek. Guru pun kecolongan atas peristiwa ini
karena luput dari perhatian guru.
Saat itu, Kepala Dinas
Pendidikan DKI Jakarta Arie Budiman justru meminta orang tua memberikan
pengawasan yang lebih ketat kepada anak-anak. "Tidak hanya sekolah yang
bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak yang positif,"
katanya.
Pada Kamis, 19 November
2015, Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga dimarahi Gubernur Basuki Tjahaja
Purnama karena Ahok, panggilan Basuki, menemukan rancangan anggaran honor
tenaga ahli programmer dengan honor hingga Rp 12 juta. Ahok juga menunda
sejumlah rehabilitasi sekolah karena anggaran Dinas Pendidikan yang dinilainya
tak wajar.
PUTRI ADITYOWATI
SUMBER: TEMPO.CO

