Biografi Rhoma Irama - Si Raja Dangdut -
Salah satu tokoh musik Indonesia yangs empat masuk ke dalam bursa Capres pada
tahun 2014, beliau adalah Rhoma Irama. Popularitasnya menarik sebuah partai
politik sehingga hendak menjadikannya calon presiden walaupun gagal. Dangdut
merupakan dunia yang membesarkannya walaupun dia dikenal sebagai artis serba
bisa. Hingga sekarang beliau masih juga aktif menyanyi dan menggunakan musik sebagai
media dakwah.
Kehidupan awal
Rhoma Irama
lahir Tasikmalaya, 11 Desember 1946, dia adalah seorang revolusioner dalam
dunia musik Indonesia. Demikianlah komentar seorang sosiolog AS dalam tesisnya
berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia
Popular Culture, 1985. Komentar ini tidaklah berlebihan mengingat “Raja
Dangdut” yang mencanangkan semboyan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973 ini
menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik
melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum dan penampilan di
atas panggung.
Pengalamannya
menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih sekolah dasar, lagu-lagu pop dan rock
Barat hingga akhir 1960-an lalu beralih ke musik Melayu, menjadikan lagu dan
musik yang dibawakannya di atas panggung lebih dinamis, melodis dan menarik.
Kehidupannya
tidak jauh dari terpaan gosip dan komentar pro dan kontra terhadap berbagai
sikap yang diambilnya. Katakan saja, fenomena goyangan Inul yang dikecamnya dan
dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Bahkan belum lama ini, sekitar
bulan Mei 2003 lalu, ia digosipkan menjalin hubungan ‘istimewa’ dengan artis
dangdut, Lely Angraeni (Angel). Menanggapi hal itu, Sang Raja Dangdut yang
sudah puluhan tahun merajai belantara dunia artis tetap tenang memberikan
penjelasan kepada masyarakat perihal gosip tersebut.
Dia merupakan
putra kedua dari empat belas bersaudara, delapan laki-laki dan enam perempuan
(delapan saudara kandung, empat saudara seibu dan dua saudara bawaan dari ayah
tirinya).
Ayahnya, Raden
Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih, memberinya nama
‘Irama’ karena bersimpati terhadap grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang
pernah diundangnya untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Sebelum pindah ke
Tasikmalaya, keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah kakaknya, Haji
Benny Muharam dilahirkan.
Setelah beberapa
tahun tinggal di Tasikmalaya, keluarganya termasuk kakaknya, Haji Benny
Muharam, dan adik-adiknya, Handi dan Ance, pindah lagi ke Jakarta lalu tinggal
di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, kemudian pindah ke Bukit Duri Tanjakan. Di
sinilah mereka menghabiskan masa remaja sampai tahun 1971 lalu pindah lagi ke
Tebet.
Semenjak kecil
Rhoma sudah terlihat bakat seninya. Tangisannya terhenti setiap kali ibundanya,
Tuti Juariah menyenandungkan lagu-lagu. Masuk kelas nol, ia sudah mulai
menyukai lagu. Minatnya pada lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar.
Menginjak kelas 2 SD, ia sudah bisa membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan
baik. Ia suka menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya, dan lagu Mera
Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Selain itu, ia juga
menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang dinyanyikan Umm Kaltsum.
Bakat musiknya
mungkin berasal dari ayahnya yang fasih memainkan seruling dan menyanyikan
lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selain itu, pamannya yang
bernama Arifin Ganda suka mengajarinya lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih
kecil.
Karena usia
Rhoma dengan kakaknya Benny tidak berbeda jauh, mereka selalu kompak dan pergi
berdua-duaan. Berbeda dengan kakaknya yang lebih sering malas ikut mengaji di
surau atau rumah kyai, Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun. Setiap
kali ayah ibunya bertanya apakah kakaknya ikut mengaji, Rhoma selalu menjawab
ya. Ke sekolahpun mereka berangkat bersama-sama. Dengan berboncengan sepeda,
keduanya berangkat dan pulang ke sekolah di SD Kibono, Manggarai.
Di bangku SD,
bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma adalah murid yang paling rajin
bila disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Dan uniknya, Rhoma tidak sama
dengan murid-murid lain yang suka malu-malu di depan kelas. Rhoma menyanyi
dengan suara keras hingga terdengar sampai ke kelas-kelas lain. Perhatian
murid-murid semakin besar karena Rhoma tidak menyanyikan lagu anak-anak atau
lagu kebangsaan, melainkan lagu-lagu India.
Bakatnya sebagai
penyanyi mendapat perhatian penyanyi senior, Bing Slamet karena melihat
penampilan Rhoma yang mengesankan ketika menyanyikan sebuah lagu Barat dalam
acara pesta di sekolahnya. Suatu hari ketika Rhoma masih duduk di kelas 4, Bing
membawanya tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api)
di Manggarai. Ini merupakan pengalaman yang membanggakan bagi Rhoma.
Sejak itu, meski
belum berpikir untuk menjadi penyanyi, Rhoma sudah tidak terpisahkan lagi dari
musik. Dengan usaha sendiri, ia belajar memainkan gitar hingga mahir. Karena
saking tergila-gilanya dengan gitar, Rhoma sering membuat ibunya marah besar.
Setiap kali ia pulang sekolah, yang pertama dia cari adalah gitar. Begitu pula
setiap kali ia keluar rumah, gitar hampir selalu ia bawa.
Masa-masa
sekolah
Sewaktu Rhoma
masih kelas 5 SD tahun 1958, ayahnya meninggal dunia. Sang ayah meninggalkan
delapan anak, yaitu, Benny, Rhoma, Handi, Ance, Dedi, Eni, Herry, dan Yayang.
Ketika kakaknya, Benny masih duduk di kelas 1 SMP, ibunya menikah lagi dengan
seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya, yang masih ada hubungan famili dan
juga berdarah ningrat. Ayah tirinya ini membawa dua anak dari istrinya yang
terdahulu dan setelah menikah dengan Ibu Rhoma, sang ibu melahirkan dua anak
lagi.
Ketika ayah
kandungnya masih hidup, suasana di rumahnya feodal. Sehari-hari ayah dan ibunya
berbicara dengan bahasa Belanda. Segalanya harus serba teratur dan menggunakan
tata krama tertentu. Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan Den
(raden). Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama. Ayahnya juga tak
segan-segan menghukum mereka dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan,
misalnya bermain hujan atau membolos sekolah.
Keadaan keluarga
Rhoma di Tebet waktu itu memang tergolong cukup kaya bila dibandingkan dengan
masyarakat sekitar. Rumahnya mentereng dan mereka memiliki beberapa mobil
seperti Impala, mobil yang tergolong mewah di zaman itu. Rhoma juga selalu
berpakaian bagus dan mahal.
Namun, suasana
feodal itu tidak lagi kental setelah ayah tiri-nya hadir di tengah-tengah
keluarga mereka. Bahkan dari ayah tiri inilah, di samping pamannya, Rhoma
mendapat ‘angin’ untuk menyalurkan bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya
membelikan alat-alat musik akustik berupa gitar, bongo, dan sebagainya.
Ketika ia masuk
SMP, tempat-tempat berlatih silat semakin marak. Tetapi, bagi Rhoma, ilmu bela
diri nasional ini tidaklah asing, karena sejak kecil ia sudah mendapat latihan
dari ayahnya dan beberapa guru silat lainnya. Rhoma pernah belajar silat
Cingkrik (paduan silat Betawi dan Cimande) pada Pak Rohimin di Kebun Jeruk,
Jakarta Barat. Rhoma juga pernah belajar silat Sigundel di Jalan talang, selain
beberapa ilmu silat yang lain. Bila terjadi perkelahian antar geng, para
anggota geng saling menjajal ilmu silat yang telah mereka pelajari.
Karena
kebandelannya itulah maka Rhoma beberapa kali harus tinggal kelas, sehingga
karena malu maka ia acapkali berpindah sekolah. Kelas Tiga SMP dijalaninya di
Medan. Ketika itu ia dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama
kemudian ia sudah pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta.
Kenakalan Rhoma
terus berlanjut hingga bangku SMA. Sewaktu bersekolah di SMA Negeri VIII
Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat jendela karena ingin bermain musik
dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di luar. Kegandrungannya pada
musik dan berkelahi di luar dan dalam sekolah membuatnya acapkali keluar masuk
sekolah SMA. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai
siswa di SMA PSKD Jakarta, St Joseph di Solo, dan akhirnya ia menetap di SMA 17
Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari rumahnya.
Di masa SMA lah
Rhoma sempat melewati masa-masa sangat pahit. Ia terpaksa menjadi pengamen di
jalanan Kota Solo. Di sana dia ditampung di rumah seorang pengamen bernama Mas
Gito.
Sebenarnya,
sebelum ‘terdampar’ di Solo, ia berniat hendak belajar agama di Pesantren
Tebuireng Jombang. Namun, karena tidak membeli karcis, Rhoma, Benny kakaknya,
dan tiga orang temannya, Daeng, Umar, dan Haris harus main kucing-kucingan
dengan kondektur selama dalam perjalanan. Daripada terus gelisah karena takut
ketahuan lalu diturunkan di tempat sepi, mereka akhirnya memilih turun di
Stasiun Tugu Jogja. Dari Jogja, mereka naik kereta lagi menuju Solo.
Di Solo, Rhoma
melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph. Biaya sekolah diperolehnya dari
mengamen dan menjual beberapa potong pakaian yang dibawanya dari Jakarta.
Namun, karena di Solo sekolahnya tidak lulus, Rhoma harus pulang ke Jakarta dan
melanjutkan sekolah di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun 1964. Ia
kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas 17 Agustus,
tapi hanya bertahan satu tahun karena ketertarikan Rhoma kepada dunia musik
sudah terlampau besar.
Rhoma Irama
sempat kuliah di Universitas 17 Agustus Jakarta, tetapi tidak menyelesaikannya.
"Ternyata belajar di luar lebih asyik dan menantang," katanya suatu
saat. Ia sendiri mengatakan bahwa ia banyak menjadi rujukan penelitian ada
kurang lebih 7 skripsi tentang musiknya telah dihasilkan. Selain itu, peneliti
asing juga kerap menjadikannya sebagai objek penelitian seperti William H.
Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS yang meneliti tentang kekuatan
popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat.
Pada bulan
Februari 2005, dia memperoleh gelar doktor honoris causa dari American
University of Hawaii dalam bidang dangdut, namun gelar tersebut dipertanyakan
banyak pihak karena universitas ini diketahui tidak mempunyai murid sama sekali
di Amerika Serikat sendiri, dan hanya mengeluarkan gelar kepada warga non-AS di
luar negeri. Selain itu, universitas ini tidak diakreditasikan oleh pemerintah
negara bagian Hawaii.
Bermusik
Pada tahun tujuh
puluhan, Rhoma sudah menjadi penyanyi dan musisi ternama setelah jatuh bangun
dalam mendirikan band musik, mulai dari band Gayhand tahun 1963. Tak lama
kemudian, ia pindah masuk Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band
sendiri bernama Soneta yang sejak 13 Oktober 1973 mulai berkibar. Bersama grup
Soneta yang dipimpinnya, Rhoma tercatat pernah memperoleh 11 Golden Record dari
kaset-kasetnya.
Berdasarkan data
penjualan kaset, dan jumlah penonton film-film yang dibintanginya, penggemar
Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai
pertengahan 1984. "Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup
sedemikian luas", tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma
sendiri bilang, "Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret
jauh."
Rhoma Irama
terhitung sebagai salah satu penghibur yang paling sukses dalam mengumpulkan
massa. Rhoma Irama bukan hanya tampil di dalam negeri tapi ia juga pernah
tampil di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei dengan jumlah penonton yang
hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Sering dalam konser Rhoma Irama,
penonton jatuh pingsan akibat berdesakan. Orang menyebut musik Rhoma adalah
musik dangdut, sementara ia sendiri lebih suka bila musiknya disebut sebagai
irama Melayu.
Pada 13 Oktober
1973, Rhoma mencanangkan semboyan "Voice of Moslem" (Suara Muslim)
yang bertujuan menjadi agen pembaru musik Melayu yang memadukan unsur musik
rock dalam musik Melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair,
lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Menurut Achmad Albar, penyanyi
rock Indonesia, "Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock".
Tetapi jika kita amati ternyata bukan hanya rock yang dipadu oleh Rhoma Irama
tetapi musik pop, India, dan orkestra juga. inilah yang menyebabkan setiap lagu
Rhoma memiiki cita rasa yang berbeda.
Bagi para
penyanyi dangdut lagu Rhoma mewakili semua suasana ada nuansa agama, cinta
remaja, cinta kepada orang tua, kepada bangsa, kritik sosial, dan lain-lain.
"Mustahil mengadakan panggung dangdut tanpa menampilkan lagu Bang Rhoma,
karena semua menyukai lagu Rhoma," begitu tanggapan beberapa penyanyi dangdut
dalam suatu acara TV.
Rhoma juga
sukses di dunia film, setidaknya secara komersial. Data PT Perfin menyebutkan,
hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai
diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, misalnya. Film yang dibuat
dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp
400 juta. Tetapi, "Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari
uang kaset," kata Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma
Film. Hasil film tersebut antara lain disumbangkan untuk masjid, yatim piatu,
kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.
Kesuksesannya di
dunia musik dan dunia seni peran membuat Rhoma sempat mendirikan perusahaan
film Rhoma Irama Film Production yang berhasil memproduksi film, di antaranya
Perjuangan dan Doa (1980) serta Cinta Kembar (1984).
Istri-istri
Rhoma Irama
• Rhoma
menikahi Veronica pada 1972, seorang wanita Nasrani yang menjadi muslim setelah
dinikahinya, yang kemudian memberinya tiga orang anak, Debby Verama Sari (18
Desember 1972), Fikri Rhoma Irama (30 September 1976), dan Romy (26). Rhoma
akhirnya bercerai dengan Veronica bulan Mei 1985.
• Sebelum
bercerai, sekitar setahun sebelumnya, Rhoma menikahi Ricca Rachim, juga seorang
wanita Nasrani yang kemudian menjadi muslim setelah dinikahinya — lawan mainnya
dalam beberapa film seperti Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camellia,
Cinta Segitiga, Pengabdian, Pengorbanan, dan Satria Bergitar. Hingga sekarang,
Ricca tetap mendampingi Rhoma sebagai istri. Mereka mengangkat seorang anak
bernama Ridho Irama (14 Januari 1989), namun sumber lain yang tidak jelas mengatakan
bahwa Ridho merupakan anak kandung Rhoma dari wanita bernama Marwah Ali.
• Pada
tanggal 2 Agustus 2005, Rhoma mengumumkan telah menikahi artis sinetron Angel
Lelga secara siri pada 6 Maret 2003, namun hari itu juga ia menceraikannya.
• Veronica
sempat menikah kembali (1991) kemudian sang suami yang seorang pejabat
meninggal, Veronica sendiri meninggal pada tahun 2005 dengan mengalami berbagai
penyakit, anak-anaknya mengakui pada pers selama Veronica sakit Rhoma Irama lah
yang menanggung semua biaya perawatan hingga ke Singapura mengingat Veronica
bukan lagi artis yang produktif dan telah menjadi janda karena suaminya telah
meninggal. Keluarga mencatat bahwa Rhoma tetap berperan dalam keluarga
tersebut.
• Pada
saat Rhoma Irama digerebek oleh wartawan di Apartemen bersama Angel Lelga
sebenarnya keduanya telah menikah secara siri, otak dibalik pengerebekan
tersebut adalah Yati Octavia dan suaminya Pangky Suwito yang juga tinggal di
Apartemen Semanggi dan turut hadir bersama wartawan pada saat pengebrekan.
Politik
Ia juga terlibat
dalam dunia politik. Di masa awal Orde Baru, ia sempat menjadi maskot penting
PPP, setelah terus dimusuhi oleh Pemerintah Orde baru karena menolak untuk
bergabung dengan Golkar. Rhoma Sempat tidak aktif berpolitik untuk beberapa
waktu, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPR mewakili utusan Golongan
yakni mewakili seniman dan artis pada tahun 1993. Pada pemilu 2004 Rhoma Irama
tampil pula di panggung kampanye PKS.
Pada pemilihan
Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, Rhoma mendukung pasangan Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara)..Dukungan Rhoma kepada Foke sangat terlihat
saat dia menyampaikan ceramah di sebuah masjid di Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Kepada jemaah, Rhoma menyarankan untuk tidak memilih pemimpin yang tidak
seakidah. Ceramah di Tanjung Duren itu akhirnya membawa Rhoma pada pemeriksaan
oleh Panwaslu DKI Jakarta. Rhoma diduga melakukan kampanye terselubung untuk
Foke-Nara dan menggunakan isu SARA.
Pada pemilu
2014, Raja dangdut ini, seperti diketahui, telah disebut sebagai salah-satu
bakal calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa, PKB dan Rhoma sendiri
akhirnya mendeklarasikan diri siap maju di Pilpres 2014. Namun ternyata PKB
tidak benar-benar menjadikannya calon presiden. Rhoma kemudian mendukung calon
presiden dari partai Gerindra, Prabowo Subianto
Demikian
biografi dan profil Rhoma Irama yang dikenal dengan julukan Raja Dangdut. (***)



