Tugas Wisata : Manado!







 Tugas Wisata : Manado!


Kali ini aku ditugaskan oleh Kantor Admisi UNTAR untuk berpromosi di MANADO! Aku belum pernah berkunjung ke pulau yang bertetanggaan dengan Filipina ini. Jelas sekali aku sangat senang. Aku akan berangkat kesana dengan Bu Viny, dosen dari fakultas Teknologi Informatika.
Tapi berhubung Bu Viny akan berangkat bersama keluarganya, maka ia berangkat duluan bersama keluarga dan aku berangkat belakangan sendiri. Ini benar-benar pengalaman baru untukku. Pikiranku juga dipenuhi oleh berbagai rencana untuk mengisi waktu selama roadshow hampir sepekan itu, dimulai dari tanggal 16 Oktober hingga 23 Oktober 2011 di beberapa SMA terkenal di Manado.

Manado View from SMA Binsus

Aku bersiap-siap untuk berangkat hari Minggu tanggal 16 Oktober dengan menumpang penerbangan Lion Air jam 9 pagi. Sesampai disana sekitar jam 13.00 WITA, rencananya aku akan dijemput oleh Bu Viny di Bandara Sam Ratulangi. Karena sesuatu dan lain hal, dia tidak bisa menjemput. Akhirnya aku menuju ke hotel Travello dengan diantar taksi. Setelah selesai mengurusi masalah check in, aku memutuskan untuk keliling kota Manado sendirian. Untungnya letak hotel amat sangat dekat dengan pusat kota. Untungnya lagi, aku bertemu dengan seorang bule dari Jerman yang juga kebetulan hendak jalan-jalan di sekitar hotel sendirian. Yeay! Aku punya teman. Setelah mendapatkan peta dari pihak hotel, kami berjalan kaki hendak mencari makan. Si bule Jerman yang bernama Andrew ini ternyata sudah beberapa hari tinggal di hotel itu dan sering berjalan kaki sendiri. Dia mulai paham dengan kondisi sekitar. Lalu Andrew mengajak untuk berjalan melihat-lihat pantai dan pelabuhan, kemudian menuju restoran Raja Sate untuk makan. Sayangnya, dia lupa tempat persis restoran tersebut. Akhirnya, kami makan di food court Manado Town Square. Selesai makan, kami pun kembali ke hotel dengan menumpang taksi.

Keesokan harinya, tanggal 17 Oktober 2011, kami mulai menjalankan tugas. Tugas di hari pertama ini adalah presentasi di SMA Negeri 1 Manado dan SMA Binsus Manado. Selesai menjalankan tugas, aku berkesempatan untuk makan siang di restoran Raja Sate bersama Bu Viny dan keluarganya. Aku juga sempat untuk berkunjung dan berfoto di depan Monumen Yesus Memberkati yang terkenal itu. Lokasi monumen tersebut ternyata ada di dalam perumahan  Citraland Manado. Senang sekali aku bisa sempat berkunjung ke tempat ini.
SMA Binsus
SMA Binsus

SMA Negeri 1 Manado

Monumen Yesus Memberkati difoto dari taman 
Selasa, tanggal 18 Oktober 2011 adalah hari kedua kami bertugas untuk pameran dan presentasi di SMA Don Bosco Manado.  Lokasinya sangat dekat dengan hotel Travello, tempat aku menginap. Hanya dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari lima menit, aku sudah sampai di sekolah tersebut.

SMA Don Bosco
Di ruang kelas SMA Don Bosco
Di ruang kelas SMA Don Bosco
Tanya jawab UNTAR di SMA Don Bosco
Tanya jawab UNTAR di SMA Don Bosco
Lokasi berikutnya yang kami kunjungi pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 19 – 20 Oktober 2011 adalah SMA Kristen Eben Haezer Manado. Sekolah ini juga populer dengan sebutan Benzar. Belakangan, aku baru tahu bahwa Eben Haezar berasal dari bahasa Ibrani dan mempunyai arti yang begitu baik, yaitu sampai di sini Tuhan telah menolong kita. Selama dua hari ini, untuk makan malam, aku menyempatkan diri untuk menyicipi makanan di restoran Raja Oci dan Soto Rusuk Ko Petrus. Restoran Raja Oci letaknya sangat dekat pula dengan hotel Travello, cukup dengan berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit. Aku berwisata kuliner bersama dengan Pak Didi dan Christopher Lee, tim promosi dari Universitas Atmajaya Jakarta yang kebetulan menginap di hotel yang sama. Tidak disangka, Christopher ternyata orang Pontianak juga, sama denganku. Hanya saja, dia dulunya bersekolah di SMA Santo Petrus, aku di SMA Santo Paulus. Aku menyukai makanan di Restoran Raja Oci. Yang terkenal enak adalah bakwan jagung dan bakwan nike serta ikan oci yang dimasak dengan berbagai bumbu dan dihidangkan dengan dabu-dabu, yaitu sambal khas Manado yang sangat populer, dibuat dari campuran potongan cabe merah, cabe rawit, irisan bawang merah dan tomat segar yang dipotong dadu dan terakhir diberi campuran kecap. Nike adalah sejenis ikan air tawar yang mirip dengan ikan teri, tapi lebih halus dan digoreng kering garing. Sedangkan ikan oci hampir sama dengan ikan kembung. Aku makan di restoran Raja Oci ini hingga beberapa kali. Jika di Raja Oci menawarkan menu serba ikan, maka di Soto Rusuk Ko Petrus menawarkan menu serba non halal. Intinya, serba babi! Hahaha.. Aku sempat memesan soto rusuk babi dan seporsi nugget babi. Rasanya legit. Dagingnya empuk. Recommended!

@Raja Oci with Pak Didi & Christopher Lee

Menu di Raja Oci
Me with my dinner
Me with my dinner

Menu Soto Rusuk Ko Petrus
Makan bareng di Soto Rusuk Ko Petrus
Makan bareng di Soto Rusuk Ko Petrus
Kunjunganku ke Manado hampir selesai. Sekolah terakhir yang aku kunjungi pada 21 – 22 Oktober 2011 adalah SMA Rex Mundi Manado. Biasanya, sekolah ini menjadwalkan wisata bersama untuk seluruh peserta Edufair ke Bunaken. Gratis! Entah kenapa, acara tour ke Bunaken ditiadakan tahun ini. Aku sempat kecewa. Tapi tidak apa-apa, lain kali aku pasti akan kembali ke Manado untuk menjelajahi kota yang cantik ini. Selama dua hari terakhir di Manado, aku menyempatkan diri untuk mencoba berbagai hal yang ada dalam to do-list yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari. Aku mencicipi klappertaart, dessert khas Manado yang teksturnya cukup lembut dan rasanya manis, berbahan dasar kelapa dan diberi sedikit essence rhum. Aku juga mencicipi nasi kuning Saroja yang begitu melegenda, tidak hanya tenar di kalangan orang Manado, tapi juga bagi para wisatawan. Yang menjadi kekhasan nasi kuning ini adalah karena nasinya masih terbungkus daun woka pada saat disajikan, yaitu sejenis daun palem hutan, sehingga menjadikan nasinya begitu wangi. Makanan lain yang sempat aku cicipi adalah Bubur Manado yang lazim disebut Tinutuan. Bubur Manado adalah bubur beras dengan aneka bumbu dan sayuran seperti kangkung, kacang panjang, daun kemangi, ubi merah, jagung pipil dan daun khas Manado yaitu daun gedi. Dimakan dengan ikan tongkol, nike goreng dan sambal bakasang atau dabu-dabu. Bubur ini dibawakan oleh Wanda, temanku dari ISTTS (Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya) yang juga sama-sama peserta roadshow Edufair di Manado. Ada lagi mie cakalang, yaitu mie dengan lauk ikan cakalang yang diasapi. Ikan cakalang ini adalah nama lain dari ikan tuna karena amat sangat mirip. Mungkin mereka masih satu keluarga, hehehe.. Lalu ada pula panada, sejenis roti goreng berisi ikan cakalang dan dibentuk dengan pilinan pada bagian tepinya. Juga ada biapong, bakpao khas Manado. Aku sengaja tidak mencicipi paniki, yaitu makanan dari kelelawar atau RW (rintek wuuk) yang merupakan masakan dari daging anjing. Banyak yang menyarankanku untuk mencoba kedua makanan ini, namun aku masih belum berhasil mengumpulkan segenap mental untuk mencobanya. Lagipula, aku ngeri dengan efek samping yang akan ditimbulkan karena aku mudah alergi dengan jenis makanan tertentu.
SMA Katolik Rex Mundi
SMA Katolik Rex Mundi
Me and Students of SMA Rex Mundi Manado
Me and Students of SMA Rex Mundi Manado
Tempat lain yang sempat aku kunjungi adalah Universitas Sam Ratulangi, Zero Point of Manado, Kelenteng Ban Hin Kiong, Gunung Lokon di Tomohon yang dinginnya hampir menyamai Puncak dan Mega Mall Manado. Untuk berbelanja oleh-oleh, aku mendatangi Jalan B.W. Lapian. Disana terdapat beberapa toko souvenir yang menjual makanan dan kerajinan tangan khas Manado. Aku membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta. Ada haluan kanari dan bagea kanari serta manisan pala. Tidak lupa kue klappertaart.

@Zero Point Manado
Me & Christopher @Zero Point Manado
Me & Christopher @Zero Point 

Manado

Di hari terakhir, Minggu tanggal 23 Oktober 2011, aku bersiap-siap menuju bandara Sam Ratulangi untuk kembali pulang ke Jakarta. Tugas wisata selama seminggu di Manado yang begitu menyenangkan akan membawaku kembali lagi ke kota ini suatu hari. Aku masih belum sempat mencoba snorkeling dan diving di Taman Laut Bunaken yang katanya paling cantik sedunia ini.

Selama berada dalam pesawat, aku teringat kembali slogan khas Manado yang diberitahu oleh siswa SMA di Manado yang aku temui, yaitu Si Tou Timou Tumou Tou yang berasal dari bahasa Minahasa dan mempunyai arti manusia hidup untuk menghidupi, mendidik dan menjadi berkat orang lain. Slogan kedua yang populer adalah Torang Samua Basudara yang artinya kita semua bersaudara. Tentunya ini semua mengandung nilai kearifan lokal khas Manado yang mengajarkan kita untuk hidup saling tolong-menolong karena kita adalah saudara!
Bagikan berita :
 
Supported by : Creating Website | MENOREH . Net - Media Partner
Copyright © 2013. BUANA POST.Com - All Rights Reserved
Created by News BUANA.Com
KONTAK REDAKSI